As motorcycle stunts and tricks have become a popular part of motorcycle culture, some riders have taken to modifying their vehicles to improve their capabilities. These additional parts do not necessarily change the everyday operation of the bike, but can be warning signs of amateur stunt riders. However, if these parts are not installed correctly, they could prove dangerous to everyone on the road.
Showing posts with label Budaya Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Budaya Indonesia. Show all posts
Campursari adalah musik tradisional khas Jawa. Seiring dengan perkembangan zaman, campursari pun mengalami berbagai perubahan, baik dari segi instrumen pengiring, irama maupun lirik dan tema lagunya.
"Istilah campursari dalam dunia musik nasional Indonesia mengacu pada campuran (crossover) beberapa genre musik kontemporer Indonesia. Nama campursari diambil dari bahasa Jawa yang sebenarnya bersifat umum. Musik campursari di wilayah Jawa bagian tengah hingga timur khususnya terkait dengan modifikasi alat-alat musik gamelan, sehingga dapat dikombinasi dengan instrumen musik barat, atau sebaliknya. Dalam kenyataannya, instrumen-instrumen ‘asing’ ini ‘tunduk’ pada pakem musik yang disukai masyarakat setempat: langgam Jawa dan gending.
Campursari pertama kali dipopulerkan oleh Manthous dengan memasukkan keyboard ke dalam orkestrasi gamelan pada sekitar akhir dekade 1980-an melalui kelompok gamelan “Maju Lancar”. Kemudian secara pesat masuk unsur-unsur baru seperti langgam Jawa (keroncong) serta akhirnya dangdut.
Pada dekade 2000-an telah dikenal bentuk-bentuk campursari yang merupakan campuran gamelan dan keroncong (misalnya Kena Goda dari Nurhana), campuran gamelan dan dangdut, serta campuran keroncong dan dangdut (congdut, populer dari lagu-lagu Didi Kempot).
Meskipun perkembangan campursari banyak dikritik oleh para pendukung kemurnian aliran-aliran musik ini, semua pihak sepakat bahwa campursari merevitalisasi musik-musik tradisional di wilayah tanah Jawa."
Dari segi lirik, campursari mempunyai beragam warna, mulai dari jenaka, kepedihan hati, maupun pesan moral berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Bahkan tak sedikit yang nyerempet-nyerempet porno atau membuat pendengar mengasosiasikan porno.
Saya biasa menikmati alunan musik campursari melalui radio daripada memutarnya di komputer, karena koleksinya lebih beragam.
Berikut ini saya tampilkan salah satu lirik lagu campursari (berikut terjemahan dalam bahasa Indonesia) yang menurut saya menarik. Ada pesan moral di situ. Judulnya Ngamen 2. Ada beberapa penyanyi yang mendendangkan lagu ini, tapi saya pilih yang dinyanyikan oleh Eny Sagita.
Ngamen 2
Mak iki anakmu prawan (Ibu ini anak gadismu)
Wiwit cilik biyen ono ing perantauan (Sejak kecil hidup di perantauan)
Melu ngewangi ning kantin sekolahan (Ikut membantu di kantin sekolah)
Telung sasi mak aku urung bayaran (Tiga bulan bu aku belum diberi upah)
Amsterdam (Pos Kota) – Ketika di Indonesia, peminat wayang semakin berkurang, sebaliknya di Belanda, wayang justru masuk ke sekolah-sekolah menengah melalui animasi.
Bahasanya yang santun dan ceritanya yang menarik, membuat wayang semakin diminati di kalangan pendidik dan anak muda. Demikian dilaporkan Radio Belanda, RNW.
Kalau berbicara soal wayang di Belanda, kebalikan dari apa yang terjadi di Indonesia. Di Indonesia yang merupakan negara asal, wayang semakin ditinggalkan, khususnya oleh kaum muda.
Memang di Indonesia, saat ini banyak anak muda yang berminat jadi dalang, namun itu tak dibarengi dengan fasilitas yang ada, karena minimnya pagelaran. Hal itu bisa dipahami karena untuk menggelar pertunjukan, seseorang harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.
Namun di Belanda, menurut Heidi Hinzler, yang selama ini disibukkan dengan berbagai proyek pementasan wayang di Belanda mengatakan, orang Belanda tertarik akan wayang karena cerita-cerita filsafat di baliknya seperti Ramayana dan Mahabarata.
Sejarah hubungan antara Indonesia-Belanda juga merupakan salah satu faktor penarik mengapa wayang digemari. “Dulu ada pendidikan wayang untuk pegawai negeri kolonial di Leiden.”
Museum Nusantara di Delft, khusus punya bahan itu dan mereka ingin mendekatkan timur dengan barat. Karena itu cerita dari barat yang dibungkus dengan medium dari timur yaitu Indonesia, dalam bentuk wayang.
Filsafat Wayang
Dari dulu orang Belanda tertarik kepada wayang, walaupun di Belanda sendiri juga ada boneka tradisional. “Tapi mereka tertarik pada filsafat Mahabarata dan Ramayana yang dikasi lihat di wayang,” tutur Heidi Hinzler.
Khusus untuk sekolah, tambahnya, wayang digunakan untuk pendidikan anak-anak supaya mempelajari latar belakang dan juga filsafatnya untuk membangun karakter mereka.
“Dan juga untuk speech belajar bahasa yang sopan dan yang bagus karena ada banyak anak-anak di sini yang bahasanya Belandanya jelek. Karena itu wayang animasi laku di sekolah untuk belajar.”
Pelajaran sejarah di sekolah-sekolah lebih gampang dicerna melalui wayang daripada membaca buku. Misalnya saja soal cerita Willem van Oranje.
“Kebanyakan anak-anak sekarang tak mampu atau malas, mereka lebih tertarik lihat di screen layar daripada baca buku. Hal itu bukan hanya di Belanda, tapi juga di Inggris dan Jerman”.
Anak-anak, menurutnya, senang dengan wayang. Seperti belum lama ini ada workshop wayang yang digelar di sebuah sekolah menengah di Leiden.
Belajar Gerak-gerik
“Di sana anak-anak mau belajar gerak-geriknya dan mau belajar tari yang klasik dan lain lainnya. Mereka antusias sekali. Mereka tertarik dengan tokoh dalam wayang bukan hanya saja punawakawan tapi raja-raja dengan pakainnya yang bagus.”
Karakter wayang membuat anak sekolah tertarik.. Karena biasanya pagelaran wayang tidak hanya saja perang atau menampilkan yang lucu-lucu tapi juga tentang dilema manusia.
Selain sejarah Belanda seperti Willem van Oranje, pentas wayang juga menampilkan sejarah hubungan Indonesia-Belanda misalnya pagelaran wayang Jan Pieterzoon Coen serta wayang Revolus
“Saya kira lebih jelas daripada yang ditulis di buku. Di buku hanya ada kalimat jadi kurang menarik. Sementara kalau dikerjakan dengan wayang akan lebih menarik.”
Bank Data
Proyek Bank Data wayang dibuat karena wayang bertebaran baik itu di museum dan rumah pribadi di Belanda. “Ada banyak wayang dari Jawa, Bali, Lombok macem-macem dan kebanyakan orang tidak tahu siapa dan dipakai untuk apa, serta dari daerah mana dan untuk apa.”
Heidi menambahkan, dia akan bekerjasama dengan dalang seperti Ki Lejar Subroto untuk memeriksanya. Supaya ada data soal keberadaan wayang di Belanda. (RNW/dms)
Candi Borobudur adalah candi terbesar peninggalan Abad ke 9. Candi ini terlihat begitu impresif dan kokoh sehingga terkenal seantero dunia. Peninggalan sejarah yang bernilai tinggi ini sempat menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Namun tahukah Anda bahwa seperti halnya pada bangunan purbakala yang lain, Candi Borobudur tak luput dari misteri mengenai cara pembuatannya?
Misteri ini banyak melahirkan pendapat yang spekulatif hingga kontroversi. Dengan beberapa catatan dan referensi yang terbatas, saya coba menganalisis dan sedikit menguak tabir misteri pembuatan candi ini yang ternyata tidak perlu di-misteri-kan!…
Design Candi
Candi Borobudur memiliki struktur dasar punden berundak, dengan enam pelataran berbentuk bujur sangkar, tiga pelataran berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa utama sebagai puncaknya. Selain itu tersebar di semua pelatarannya beberapa stupa.
Candi Borobudur didirikan di atas sebuah bukit atau deretan bukit-bukit kecil yang memanjang dengan arah Barat-Barat Daya dan Timur-Tenggara dengan ukuran panjang ± 123 m, lebar ± 123 m dan tinggi ± 34.5 m diukur dari permukaan tanah datar di sekitarnya dengan puncak bukit yang rata.
Candi Borobudur merupakan tumpukan batu yang diletakkan di atas gundukan tanah sebagai intinya, sehingga bukan merupakan tumpukan batuan yang masif. Inti tanah juga sengaja dibuat berundak-undak dan bagian atasnya diratakan untuk meletakkan batuan candi (Sampurno, 1966).
Candi Borobudur juga terlihat cukup kompleks dilihat dari bagian-bagian yang dibangun. Terdiri dari 10 tingkat dimana tingkat 1-6 berbentuk persegi dan sisanya bundar. Dinding candi dipenuhi oleh gambar relief sebanyak 1460 panel. Terdapat 504 arca yang melengkapi candi.
Material Penyusun Candi
Inti tanah yang berfungsi sebagai tanah dasar atau tanah pondasi Candi Borobudur dibagi menjadi 2, yaitu tanah urug dan tanah asli pembentuk bukit. Tanah urug adalah tanah yang sengaja dibuat untuk tujuan pembangunan Candi Borobudur, disesuaikan dengan bentuk bangunan candi. Menurut Sampurno Tanah ini ditambahkan di atas tanah asli sebagai pengisi dan pembentuk morfologi bangunan candi. Tanah urug ini sudah dibuat oleh pendiri Candi Borobudur, bukan merupakan hasil pekerjaan restorasi. Ketebalan tanah urug ini tidak seragam walaupun terletak pada lantai yang sama, yaitu antara 0,5-8,5 m.
Batuan penyusun Candi Borobudur berjenis andesit dengan porositas yang tinggi, kadar porinya sekitar 32%-46%, dan antara lubang pori satu dengan yang lain tidak berhubungan. Kuat tekannya tergolong rendah jika dibandingkan dengan kuat tekan batuan sejenis. Dari hasil penelitian Sampurno (1969), diperoleh kuat tekan minimum sebesar 111 kg/cm2 dan kuat tekan maksimum sebesar 281 kg/cm2. Berat volume batuan antara 1,6-2 t/m3.
Misteri Cara Membangun Candi
Data mengenai candi ini baik dari sisi design, sejarah, dan falsafah bangunan begitu banyak tersedia. Banyak ahli sejarah dan bangunan purbakala menulis mengenai keistimewaan candi ini. Namun menyisakan misteri tentang bagaimana candi ini dibangun.
Hasil penelusuran data baik di buku maupun internet, tidak ada satupun yang sedikit mengungkapkan mengenai misteri cara pembangunan candi. Satu-satunya informasi adalah tulisan mengenai sosok Edward Leedskalnin yang aneh dan misterius.
Dia mengatakan, “Saya telah menemukan rahasia-rahasia piramida dan bagaimana cara orang Mesir purba, Peru, Yucatan dan Asia (Candi Borobudur) mengangkat batu yang beratnya berton-ton hanya dengan peralatan yang primitif.”
Edward adalah orang yang membangun Coral Castle yang terkenal. Beberapa orang lalu memperkirakan bagaimana cara kerja dia untuk mengungkap misteri tentang pengetahuan dia bagaimana bangunan purba dibangun. Berikut pendapat beberapa orang dan ahli mengenai cara Edward membangun Coral Castle:
Ada yang mengatakan bahwa ia mungkin telah berhasil menemukan rahasia para arsitek masa purba yang membangun monumen seperti piramida dan Stonehenge.
Ada yang mengatakan mungkin Edward menggunakan semacam peralatan anti gravitasi untuk membangun Coral Castle.
David Hatcher Childress, penulis buku Anty Gravity and The World Grid, memiliki teori yang menarik. Menurutnya wilayah Florida Selatan yang menjadi lokasi Coral Castle memiliki diamagnetik kuat yang bisa membuat sebuah objek melayang. Apalagi wilayah Florida selatan masih dianggap sebagai bagian dari segitiga bermuda. David percaya bahwa Edward Leedskalnin menggunakan prinsip diamagnetik jaring bumi yang memampukannya mengangkat batu besar dengan menggunakan pusat massa. David juga merujuk pada buku catatan Edward yang ditemukan yang memang menunjukkan adanya skema-skema magnetik dan eksperimen listrik di dalamnya. Walaupun pernyataan David berbau sains, namun prinsip-prinsip esoterik masih terlihat jelas di dalamnya.
Penulis lain bernama Ray Stoner juga mendukung teori ini. Ia bahkan percaya kalau Edward memindahkan Coral Castle ke Homestead karena ia menyadari adanya kesalahan perhitungan matematika dalam penentuan lokasi Coral Castle. Jadi ia memindahkannya ke wilayah yang memiliki keuntungan dalam segi kekuatan magnetik.
Akhirnya didapat foto yang berhasil diambil pada waktu Edward mengerjakan Coral Castle menunjukkan bahwa ia menggunakan cara yang sama yang digunakan oleh para pekerja modern, yaitu menggunakan prinsip yang disebut block and tackle.
Beda Coral Castle beda pula Candi Borobudur. Coral Castle masih menungkinkan menggunakan Block dan Tackle. Untuk Candi Borobudur rasanya block dan tackle pun masih belum ada. Lalu bagaimana sebenarnya cara membuat Candi ini?. Misteri yang belum terungkap berdasarkan informasi di atas. Saya coba mulai berfikir ulang terlepas dari misteri dengan mencoba menganalisis data-data yang ada.
Ada beberapa aspek yang diperhatikan sebelum memperkirakan bagaimana candi ini dibangun, yaitu:
Bentuk bangunan. Candi ini berbentuk tapak persegi ukuran panjang ± 123 m, lebar ± 123 m dan tinggi ± 42 m. Luas 15.129 m2.
Volume material utama. Material utama candi ini adalah batuan andesit berporositas tinggi dengan berat jenis 1,6-2,0 t/m3. Diperkirakan terdapat 55.000 m3 batu pembentuk candi atau sekitar 2 juta batuan dengan ukuran batuan berkisar 25 x 10 x 15 cm. Berat per potongan batu sekitar 7,5 – 10 kg.
Konstruksi bangunan. Candi Borobudur merupakan tumpukan batu yang diletakkan di atas gundukan tanah sebagai intinya, sehingga bukan merupakan tumpukan batuan yang masif. Inti tanah juga sengaja dibuat berundak-undak dan bagian atasnya diratakan untuk meletakkan batuan candi.
Setiap batu disambung tanpa menggunakan semen atau perekat. Batu-batu ini hanya disambung berdasarkan pola dan ditumpuk
Semua batu tersebut diambil dari sungai di sekitar Candi Borobudur.
Candi Borobudur merupakan bangunan yang kompleks dilihat dari bagian-bagian yang dibangun. Terdiri dari 10 tingkat dimana tingkat 1-6 berbentuk persegi dan sisanya bundar. Dinding candi dipenuhi oleh gambar relief sebanyak 1460 panel. Terdapat 505 arca yang melengkapi candi
Teknologi yang tersedia. Pada saat itu belum ada teknologi angkat dan pemindahan material berat yang memadai. Diperkirakan menggunakan metode mekanik sederhana.
Perkiraan jangka waktu pelaksanaan. Tidak ada informasi yang akurat. Namun beberapa sumber menyebutkan bahwa Candi Borobudur dibangun mulai 824 M – 847 M. Ada referensi lain yang menyebut bahwa candi dibangun dari 750 M hingga 842 M atau 92 tahun.
Pembangunan candi dilakukan bertahap. Pada awalnya dibangun tata susun bertingkat. Sepertinya dirancang sebagai piramida berundak. tetapi kemudian diubah. Sebagai bukti ada tata susun yang dibongkar. Tahap kedua, pondasi Borobudur diperlebar, ditambah dengan dua undak persegi dan satu undak lingkaran yang langsung diberikan stupa induk besar. Tahap ketiga, undak atas lingkaran dengan stupa induk besar dibongkar dan dihilangkan dan diganti tiga undak lingkaran. Stupa-stupa dibangun pada puncak undak-undak ini dengan satu stupa besar di tengahnya.Tahap keempat, ada perubahan kecil, yakni pembuatan relief perubahan pada tangga dan pembuatan lengkung di atas pintu.
Suatu hal yang unik, bahwa candi ini ternyata memiliki arsitektur dengan format menarik atau terstruktur secara matematika. setiap bagain kaki, badan dan kepala candi selalu memiliki perbandingan 4:6:9. Penempatan-penempatan stupanya juga memiliki makna tersendiri, ditambah lagi adanya bagian relief yang diperkirakan berkatian dengan astronomi menjadikan borobudur memang merupakan bukti sejarah yang menarik untuk di amati.
Jumlah stupa di tingkat Arupadhatu (stupa puncak tidak di hitung) adalah: 32, 24, 26 yang memiliki perbandingan yang teratur, yaitu 4:3:2, dan semuanya habis dibagi 8. Ukuran tinggi stupa di tiga tingkat tsb. Adalah: 1,9m; 1,8m; masing-masing bebeda 10 cm. Begitu juga diameter dari stupa-stupa tersebut, mempunyai ukuran tepat sama pula dengan tingginya : 1,9m; 1,8m; 1,7m.
Beberapa bilangan di borobudur, bila dijumlahkan angka-angkanya akan berakhir menjadi angka 1 kembali. Diduga bahwa itu memang dibuat demikian yang dapat ditafsirkan : angka 1 melambangkan ke-Esaan Sang Adhi Buddha. Jumlah tingkatan Borobudur adalah 10, angka-angka dalam 10 bila dijumlahkan hasilnya : 1 + 0 = 1. Jumlah stupa di Arupadhatu yang didalamnya ada patung-patungnya ada : 32 + 24 + 16 + 1 = 73, angka 73 bila dijumlahkan hasilnya: 10 dan seperti diatas 1 + 0 = 10. Jumlah patung-patung di Borobudur seluruhnya ada 505 buah. Bila angka-angka didalamnya dijumlahkan, hasilnya 5 + 0 + 5 = 10 dan juga seperti diatas 1 + 0 = 1.
Melihat data-data di atas, tentunya masih bersifat perkiraan, saya mencoba memberikan beberapa analisa yang mudah-mudahan dapat dikomentari sebagai usaha kita menguak misteri yang ada sebagai berikut:
1. Dari data yang ada disebutkan bahwa ukuran batu candi adalah sekitar 25 x 10 x 15 cm dengan berat jenis batu adalah 1,6 – 2 ton/m3, ini berarti berat per potongan batu hanya sekitar maksimum 7.5 kg (untuk berat jenis 2 t/m3). Potongan batu ternyata sangat ringan. Untuk batuan seberat itu, rasanya tidak perlu teknologi apapun. Masalah yang mungkin muncul adalah medan miring yang harus ditempuh. Medan miring secara fisika membuat beban seolah-olah menjadi lebih berat. Hal ini karena penguraian gaya menyebabkan ada beban horizontal sejajar kemiringan yang harus dipikul. Namun dengan melihat kenyataan bahwa berat per potongan batu adalah hanya 7.5 kg, rasanya masalah medan miring yang beundak-undak tidak perlu dipermasalahkan. Kesimpulannya adalah proses pengangkutan potongan batu dapat dilakukan dengan mudah dan tidak perlu teknologi apapun.
2. Sumber material batu diambil dari sungai sekitar candi. Hal ini berarti jarak antara quarry dan site sangat dekat. Walaupun jumlahnya mencapai 2.000.000 potongan, namun ringannya material tiap potong batu dan dekatnya jarak angkut, hal ini berarti proses pengangkutan pun dapat dilakukan dengan mudah tanpa perlu teknologi tertentu.
3. Candi dibangun dalam jangka waktu yang cukup lama. Ada yang mengatakan 23 tahun ada juga yang mengatakan 92 tahun. Jika berasumsi paling cepat 23 tahun. Mari kita berhitung soal produktifitas pemasangan batu. Jika persiapan lahan dan material awal adalah 2 tahun, maka masa pemasangan batu adalah 21 tahun atau 7665 hari. Terdapat 2 juta potong batu. Produktifitas pemasangan batu adalah 2000000/7665 = 261 batu/hari. Produktifitas ini rasanya sangat kecil. Tidak perlu cara apapun untuk menghasilkan produktifitas yang kecil tersebut. Apalagi menggunakan data durasi pelaksanaan yang lebih lama.
4. Lamanya proses pembuatan candi dapat disebabkan ada perubahan-perubahan design yang dilakukan selama pelaksanaannya. Hal ini mungkin dikeranakan adanya pergantian penguasa (raja) selama proses pembangunan candi.
5. Borobudur dilihat secara fisik begitu impresif. Memiliki 10 lantai dengan bentuk persegi dan lingkaran. Memiliki relief sepanjang dinding dan arca dalam jumlah yang banyak. Candi ini begitu memperhatikan falsafah yang terkandung dalam ukuran-ukurannya. Hal ini membuktikan bahwa Candi dibangun dengan konsep design yang cukup baik.
6. Candi Borobudur adalah Candi terbesar. Candi Borobudur juga terlihat kompleks dilihat dari design arsitekturalnya Terdiri dari 10 tingkat dimana tingkat 1-6 berbentuk persegi dan sisanya bundar. Dinding candi dipenuhi oleh gambar relief sebanyak 1460 panel. Terdapat 504 arca yang melengkapi candi. Ini jelas bukan pekerjaan design dan pelaksanaan yang gampang. Kesimpulannya candi Borobudur yang bernilai dari sisi design baik teknik sipil maupun seni arsitektur membutuhkan perencanaan dan pengelolaan yang matang dari aspek design maupun cara pelaksanaannya. Saya berkesimpulan Candi ini dibangun dengan manajemen proyek yang sudah cukup baik.
Kesimpulan-kesimpulan di atas akhirnya membawa saya pada suatu kesimpulan umum bahwa Candi Borobudur berbeda dengan bangunan pubakala lainnya yang dipenuhi misteri dan mistis. Candi ini lebih dapat dijelaskan dengan konsep fisika sederhana. Cara membangun candi ini bukanlah suatu hal yang dianggap misteri apalagi mistis.
Candi ini lebih bernilai dan terkenal bukan pada misteri-misteri yang berserakan, tapi candi ini memiliki nilai design Aristektur dan Teknik Sipil serta kemampuan Manajemen Proyek yang tinggi yang menunjukkan kemajuan pemikiran para pendahulu bangsa kita. Kita patut bangga!!!
Blangkon adalah tutup kepala yang digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional jawa. Blangkon sebenarnya bentuk praktis dari iket yang merupakan tutup kepala yang dibuat dari batik. Tidak ada catatan sejarah yang dapat menjelaskan asal mula pria jawa memakai ikat kepala atau penutup kepala ini.
Pada masyarakat jawa jaman dahulu, memang ada satu cerita Legenda tentang Aji Soko. Dalam cerita ini, keberadaan iket kepala pun telah disebut, yaitu saat Aji Soko berhasil mengalahkan Dewata Cengkar, seorang raksasa penguasa tanah Jawa, hanya dengan menggelar sejenis sorban yang dapat menutup seluruh tanah Jawa. Padahal seperti kita ketahui, Aji Soko kemudian dikenal sebagai pencipta dan perumus permulaan tahun Jawa yang dimulai pada 1941 tahun yang lalu.
Ada sejumlah teori yang menyatakan bahwa pemakaian blangkon merupakan pengaruh dari budaya Hindu dan Islam yang diserap oleh orang Jawa. Menurut para ahli, orang Islam yang masuk ke Jawa terdiri dari dua etnis, yaitu keturuan Cina dari Daratan Tiongkok dan para pedagang Gujarat. Para pedagang Gujarat ini adalah orang keturunan Arab. Mereka selalu mengenakan sorban, yaitu kain panjang dan lebar yang diikatkan di kepala mereka. Sorban inilah yang menginspirasi orang jawa untuk memakai iket kepala seperti halnya orang keturunan Arab tersebut.
Ada teori lain yang berasal dari para sesepuh yang mengatakan bahwa pada jaman dahulu, iket kepala tidaklah permanen seperti sorban yang senantiasa diikatkan pada kepala. Tetapi dengan adanya masa krisis ekonomi akibat perang, kain menjadi satu barang yang sulit didapat. Oleh sebab itu para petinggi keraton meminta seniman untuk menciptakan ikat kepala yang menggunakan separoh dari biasanya untuk efisiensi. Maka terciptalah bentuk penutup kepala yang permanen dengan kain yang lebih hemat yang disebut blangkon.
Pada jaman dahulu, blangkon memang hanya dapat dibuat oleh para seniman ahli dengan pakem (aturan) yang baku. Semakin memenuhi pakem yang ditetapkan, maka blangkon tersebut akan semakin tinggi nilainya. Seorang ahli kebudayaan bernama Becker pernah meneliti tata cara pembuatan blangkon ini. Ternyata pembuatan blangkon memerlukan satu keahlian yang disebut “virtuso skill”. Menurut nya: “That an object is useful, that it required virtuso skill to make –neither of these precludes it from also thought beatiful. Some craft generate from within their own tradition a feeling for beauty and with it appropriate aesthetic standards and common of taste”.
Penilaian mengenai keindahan blangkon, selain dari pemenuhan terhadap pakem, juga tergantung sejauh mana seseorang mengerti akan standar cita rasa serta ketentuan-ketentuan yang sudah menjadi standar sosial. Pakem yang berlaku untuk blangkon, ternyata bukan hanya harus dipatuhi oleh pembuatnya, tetapi juga oleh para penggunanya. Seperti yang diungkapkan oleh Becker sebagai berikut: “By accepting beauty as a criterion, participants in craft activities on a concern characteristic of the folk definition of art. That definition includes an emphasis on beauty as typified in the tradition of some particular art, on the traditions and concerns of the art world itself as the source of value, on expression of someone’s thoughts and feelings, and on the relative freedom of artist from outside interference with the work”.
Blangkon Jogja
Blangkon pada prinsipnya terbuat dari kain iket atau udeng berbentuk persegi empat bujur sangkar. Ukurannya kira-kira selebar 105 cm x 105 cm. Yang dipergunakan sebenarnya hanya separoh kain tersebut. Ukuran blangkon diambil dari jarak antara garis lintang dari telinga kanan dan kiri melalui dahi dan melaui atas. Pada umumnya bernomor 48 paling kecil dan 59 paling besar.
Blangkon terdiri dari beberapa tipe yaitu : Menggunakan mondholan, yaitu tonjolan pada bagian belakang blangkon yang berbentuk seperti Onde-onde. Blangkon ini disebut sebagai blangkon gaya Yogyakarta. Tonjolan ini menandakan model rambut pria masa itu yang sering mengikat rambut panjang mereka di bagian belakang kepala, sehingga bagian tersebut tersembul di bagian belakang blangkon. Lilitan rambut itu harus kencang supaya tidak mudah lepas.
Model trepes, yang disebut dengan gaya Surakarta. Gaya ini merupakan modifikasi dari gaya Yogyakarta yang muncul karena kebanyakan pria sekarang berambut pendek. Model trepes ini dibuat dengan cara menjahit langsung mondholan pada bagian belakang blangkon. Selain dari suku Jawa (sebagian besar berasal dari provinsi Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur), ada beberapa suku laindi Indonesia yang memakai iket kepala yang mirip dengan blangkon jawa yaitu : suku Sunda (sebagian besar berasal dari provinsi Jawa Barat dan Banten), suku Madura, suku Bali, dan lain-lain. Hanya saja dengan pakem dan bentuk ikat yang berbeda-beda. sumber : www.rileks.com melalui caesarsoes.blogspot.com
Produk nasional sungguh sangat tidak ketinggalan dan tidak kalah jika dibandingkan dengan produk-produk busana manca negara. Tinggal penanganannya saja yang perlu ditingkatkan agar batik menjadi busana tuan rumah di negeri sendiri.
Hal itu bisa dilihat dalam pameran batik bordir dan aksesoris fair di Gramedia Expo yang dihelat mulai tanggal 18 sampai 22 Mei 2011. Dalam pameran ini banyak aneka ragam batik dari seluruh tanah air yang ikut serta, ada batik Yogya, Batik Solo, Batik Pekalongan, Batik Madura, Batik Sidoarjo, Batik Jember dan lainnya. “Pokoknya nggak nyangka kalo batik itu sangat banyak jenisnya dengan harga yang beraneka ragam,” ujar Ayu salah satu pengunjung yang mengaku sangat menyukai batik-batik dari Pekalongan ini.
Para pengunjung pada pameran saat ini cukup banyak. Dalam pameran yang juga diperkenalkan catatan Rekor Muri dari pengrajin batik di Jawa Timur dengan membuat 1000 motif batik dan pemberian pengharagaan kepada pemenang lomba desain batik serta pemberian hak paten terhadap empat merk batik dari Kabupaten Pacitan, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Bojonegoro dan Kabupaten Magetan.
Even ini juga mendapat dukungan dari Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Badan Usaha Milik Negara, Kementerian Negara Koperasi dan UKM, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur, Yayasan batik Indonesia, Kamar Dagang dan Industri Jawa Timur dan Dekranasda Provinsi Jawa Timur.
Sebagai warga Surabaya, saya kaget bahwa di kota kelahiran saya ini ternyata juga ada tradisi membatik. Saya baru tahu. Jadi malu nih. Berikut ini artikelnya :
Datang ke Surabaya bingung cari tanda mata yang tak biasa. Ada satu yang kiranya pas di hati, adalah Batik Suroboyo.
Hampir di semua kota yang ada di Jawa Timur memiliki batik sesuai karakter daerah masing-masing. Di Surabaya misalnya, siapa sangka terdapat kerajinan batik yang punya corak khas dari kota ini.
Batik Suroboyo, sekilas memang tidak berbeda dengan batik-batik daerah lain. Seperti batik Madura, batik Jember, batik Mojokerto, batik Jombang, dan batik Kenongo Sidoarjo. Semua pada dasarnya sama, yaitu batik tulis yang dikerjakan tangan-tangan terampil. Namun, bila kita amati mendetail maka tampak perbedaannya.
Motif khas ayam aduan dalam legenda Sawunggaling dan Daun Semanggi, merupakan ikon batik Suroboyo. Putu Sulistiani Prabowo, 50 tahun, adalah seorang penggagas dari lahirnya batik khas Kota Surabaya. Untuk kemudian lebih dikenal dengan sebutan Batik Suroboyo itu.
Inspirasi Putu dalam menciptakan kreasi Batik Suroboyoan, bermula dari cerita lahirnya Surabaya. Sehingga muncul motif ayam sawunggaling dan semanggi yang juga menjadi ikon dari Kota Metropolis ini.
Namun begitu, Putu mengaku berbagai corak coba terus digali dan dikembangkan. Bahkan kedepan dirinya akan menggunakan corak bergambar ayam, ayam bekisar, merak, atau motif lain seperti buaya. Motif ini nantinya dimodifikasi lagi sedemikian rupa untuk dikreasi di atas kain.
Selain pada motif, ciri khas lain dari Batik Suroboyo menurut penjelasan Putu ada pada warna. “Warna khas batik kita adalah cerah, sesuai dengan karakter orang Surabaya yang berani,” kata pemilik galeri dan workshop batik Dewi Saraswati ini.
Berkembang
Semula yang membantu Putu dalam membatik hanya tiga orang saja. Dua orang pembatik dan satu orang untuk pewarnaan. Dan, kini karyawannya sudah berjumlah 29 orang. Proses pembuatannya dilakukan di galeri dan workshop miliknya di Jalan Jemursari Utara II/19, Surabaya.
Mengenai proses pembuatan sama dengan batik umumnya. Mulai dari bahan dasar kain yang diberi kanji, digambar, dan seterusnya. Sedangkan pewarnaan, masih menggunakan pewarna sintetis, kini dirinya juga mulai pewarna alam.
“Menggunakan pewarna sintetis karena mengikuti keinginan pasar yang cenderung lebih suka warna-warna mencolok,” ujar ibu berusia 52 tahun itu.
Untuk bahan sebagai media kreasi, kini yang digunakan tidak hanya kain katun saja. Melainkan juga sudah menggunakan kain tenun. Beberapa bahan tenun lain, seperti serat kayu atau pelepah pisang pun digunakan.
Produk yang dihasilkannya beragam. Ada kain panjang atau selendang, bahan hem, syal, scraft, dan kebaya.
Harganya juga cukup bervariasi, untuk bahan katun sekitar Rp. 400 ribu sampai Rp. 1 juta. Sedangkan yang berbahan sutra harganya bisa mencapai Rp. 2 sampai 3 juta, atau bahkan lebih.
“Tapi tinggi dan rendahnya harga itu tergantung pada motif dan bahannya,” imbuh sekretaris Asosiasi Tenun, Batik, dan Bordir (ATBB) se-Jatim ini.
Pemasaran
Untuk bentuk pemasaran Batik Suroboyo, Putu mengaku masih ditangani sendiri. Seperti tetap eksis di galeri miliknya, dengan alasan untuk tetap menjaga eksklusifitas produknya. Di galeri miliknya itu, pengunjung bisa langsung melihat proses pembuatan batik. Bahkan, imbuh Putu, tempatnya bisa dijadikan alternatif jujugan wisata di Surabaya.
Selain itu, produknya banyak diserap pasar terutama pada ajang-ajang pameran, atau bila ada kunjungan tamu. “Dari situlah Batik Suroboyo dapat lebih dikenal masyarakat luas,” kata ibu 2 anak ini.
Mencermati persaingan yang terus berkembang, dirinya mengatakan perajin batik ibarat seniman. Kita harus dituntut untuk terus pandai membaca kemauan pasar. Lalu mengembangkannya dalam motif, warna, dan bahan.